Tampilkan postingan dengan label My Short Stories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Short Stories. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Maret 2012

Cinta Tiada Taranya


Oleh : Khoiriyyah Azzahro


Mentari terik Romadhon enggan beranjak menjauh dari langit Kota Samarinda. Menguapkan tetes air yang tertumpah, airmataku. Di sebuah kamar kost pada bangunan yang tua dan lusuh, Aku terisak menahan sesak di dada.
Ia telah menyakitiku! Mengkhianatiku! Uh... Bodohnya Aku!
Hatiku tak henti-hentinya merutuk. Menyesali yang terjadi, menyesali airmata yang terlanjur tumpah.
“Sudah, Ri...! Daripada ditahan, lebih baik begini. Perempuan itu wajar kok kalau nangis” terdengar ucapan yang lembut dari sahabatku, Enggar.
Huh! Enak saja! Emangnya siapa Ia! Beraninya membuatku menangis seperti ini. Dan membuat ibadah Romadhonku berantakan.
“Aku pernah bilang, kan Nggar! Aku gak akan pernah menangis untuk cowok kurang ajar macam Ranes!” teriakku.
Huh! Munafik! Sarung bantalmu itu sudah kuyup, Ri!
Lagi-lagi hatiku merutuk, memaki, mengamuk... pada diriku sendiri, pada kebodohanku. Meski semua rutukkan akhirnya tersia-sia, hatiku tetap saja tak henti merutuk.
Tok! Tok! Tok!  “Ri...!” seseorang di balik pintu memanggilku.
Sreeettt..... pintu terkuak. Sosok di baliknya segera menyerbu ke arahku yang masih memeluk bantal.
“Assalamu’alaykum. Ri, ikam garingkah jar? Garing napa1)?” Eva, sosok manis yang baru tiba langsung memberondongkan pertanyaan padaku.
“Sakit hati, Va! Gara-gara Si Ranes tuh!” jawab Enggar ketus.
“Hah! Cowok itu?”  Hhh.. Sabar ya, Ri! Masih banyak lelaki lain di luar sana yang pantas buat ikam2). Ya kan, Nggar?” celoteh Eva lagi.
Enggar langsung manggut-manggut.
Huh! Enak saja mereka bilang begitu! Mereka kan tidak tahu bagaimana kacaunya hatiku.
“Eh Ri.. Jadi kan kita ke kampus lagi siang ini? Ada kultum di mushola lho...” ujar Eva.
Ya ampun! Iya ya.. Ini kan hari yang sudah lama Kutunggu-tunggu. Kultum alias kuliah tujuh menit perdana yang digelar untuk kami, para mahasiswa angkatan baru, dimulai hari ini. Sejak seminggu lalu, Bang Airin, Mba Nunung dan Teh Nanan menggembar-gemborkan acara ini padaku. Sejak hatiku tercabik-cabik oleh kesal dan cemburu.
Cemburu? Ya Tuhan.. kini tak dapat lagi membohongi diriku. Aku cemburu padanya. Pada Ranes. Bodohnya Aku! Bukankah dulu sebelum memutuskan menjadi kekasihnya, Aku pernah berkata bahwa takkan pernah cemburu apalagi sungguh-sungguh jatuh cinta pada lelaki yang tak seiman denganku itu. Tapi, kini... ??
“Lho.. kok nangis lagi sih, Ri? Jadi kah ikut ke kampus?” tanya Eva.
Aku tergeragap dan segera menghapus airmataku. Eva menatapku, menunggu jawaban dariku. Oke! Sudahlah untuk kali ini! Ini airmata terakhirku untuk Ranes, lelaki pengkhianat itu. Segera Kulemparkan bantalku yang telah kuyup.
“Mau kemana, Ri?” tanya Enggar.
“Ke belakang, cuci muka!” jawabku sambil berlalu.
* * *

Aku tak tahu, mengapa sejak mengenal Teh Nanan, Bang Airin dan Mba Nunung, juga sejak awal memasuki ruangan seukuran 5 x 4 meter di pojok kampus itu, Aku selalu merasa damai dan kangen pada mereka. Senyum Teh Nanan yang lembut dan wajah Mba Nunung yang polos, dibalut jilbab dan gamis panjang yang anggun, senantiasa menentramkan hatiku. Hingga mampu membuatku lupa pada semua masalah hidupku. Termasuk pada Ranes.
Aku, Eva dan Enggar tiba di ruangan di pojok kampus itu. Mushola Al Ashr Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universita Mulawarman. Wangi syahdu sudah mendekati penciumanku.
Hmm.. Kultum kali ini pasti akan mengesankan.
Entah mengapa Aku berfikir demikian. Padahal ini adalah kali pertamaku mengikuti kegiatan kuliah tujuh menit yang digelar oleh para senior pengurus mushola di kampus.
Mushola fakultas itu kecil saja. Tak seperti mushola-mushola di fakultas lainnya di kampusku. Namun entah mengapa ketika memasukinya, Aku merasa ruang mushola itulah yang paling luas di antara seluruh ruang di kampusku. Karpetnya yang menipis dan hijab pembatasnya yang sudah mulai doyong tak mengurangi lapangnya perasaanku saat duduk dilantai mushola.
Sesaat kemudian kultum dimulai. Pembicaranya adalah mantan senior yang telah sukses di masyarakat dan kini menjadi dosen baru di kampusku. Sang moderator adalah Bang Airin, salah seorang senior yang amat gencar mempromosikan acara ini padaku.
Awalnya tiada yang istimewa. Kultum diisi dengan pembacaan hadist dan beberapa ayat Al-Qur’an. Kemudian dilanjutkan dengan materi tentang pentingnya menanamkan rasa ikhlas –materi yang menurutku terlalu sering diulang-ulang-  dan pertanyaan dari para pendengar. Dengan perasaan yang masih dibalut rasa sedih, Aku berusaha menyimak dengan seksama. Lamat-lamat terdengar ucapan Si Pemateri dan Bang Airin bergantian.
“Di kala hati kita dipenuhi oleh hal-hal kecil duniawi, kita sering kali terlupa pada akibat yang ditimbulkan oleh hal-hal kecil tersebut. Seakan-akan hal kecil itu tiada artinya jika dibandingkan dengan rahmat Allah yang Maha Besar. Contohnya ketika kita sedang jatuh cinta pada lawan jenis. Tak peduli apakah cinta kita tersebut di ridhoi Allah atau kah malah dimurkaiNya, kita malah semakin terbuai dan mabuk oleh cinta dunia. Padahal ridho Allah adalah segalanya. Dibandingkan dengan apa pun dimuka bumi ini”
“Hmm.. jadi kita tak boleh jatuh cinta ya Ustadz?”
“Bukan begitu. Bukan jatuh cintanya. Tapi, apakah perilaku kita tersebut diridho oleh Allah atau tidak?
Apakah Ia senang atau kah Ia malah murka pada perilaku kita tersebut?”
Dialog kedua orang tersebut menyelusup lesat ke dalam bilik dengarku, melaju cepat ke relung kalbuku, menghentak-hentak sanubariku, melesak-lesak ............ku. Tiba-tiba dadaku terasa sakit dan nafasku sesak. Pandanganku mengabur dan.......
“Ri.. istighfar, Dek! Istighfar, Dek!” lamat terdengar suara Teh Nanan di dekat telingaku. Segelas air minum tersodor. Setelah kerongkonganku basah, kuusap wajahku.
“Astaghfirulloh....” lirihku.
Ya Allah... Ampunilah Aku....
* * *

Kututup Al Qur’an mungil di tanganku. Ku letakkan dengan hati-hati di meja kecil di samping tempat tidurku. Ya.. Allah.. berapa lama Al Qur’an itu tak kusentuh? Sepertinya sejak Aku mengenal Ranes dan berpacaran dengannya sebulan yang lalu. Hanya sebulan. Tapi rasanya bak bertahun-tahun tak menyentuhnya.
Bulan sabit Romadhon membayang di kaca jendela kamar kostku. Terpantul pula wajahku yang masih berbalut rukuh mukena di sana.
Ya Robb... lihatlah Aku kini! Ini hari keempat Aku melewati Romadhon dengan deraian airmata. Menyesali semua yang terjadi. Menyesali kebodohanku. Telah kuberikan cintaku padanya, namun Ia mencampakkanku. Kuakui Ia memang bukan lelaki yang baik untukku. Aku pun tak pernah sungguh-sungguh mencintainya. Namun, Ya Robb... maafkanlah Aku! Ampunilah Aku! Atas waktuku yang tersia-sia kala bersamanya, memikirkannya, merindukannya.
Aku malu denganMu.. malu dengan jilbab yang kukenakan.. Betapa bodohnya Aku yang mencari cinta yang lain, dikala Kau berikan Aku cintaMu yang tiada taranya. Aku malu denganMu.. malu dengan jilbab yang kukenakan.. Betapa lemahnya Aku yang berfikir telah mendapatkan kasihMu kala aurat ini sudah mulai kututupi. Ternyata hidayahMu lebih besar kepadaku.
Aku tak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi denganku. Setelah mengikuti kultum hari itu, Aku selalu merasa malu pada diriku sendiri. Aku hanya ingin berada di mushola kampus sepanjang hari. Bertemu rekan-rekan yang selalu saling memberi salam dan nasehat. Yang selalu memberi cinta tulus mereka yang tak memabukkan, namun menenangkan. Karena mereka mencintaiku karena Allah semata. Bukan karena kecantikan dan kemolekan fisik semata.
Sejak saat itu, tiada lagi airmataku tertumpah sia-sia. Kecuali di kala Aku berusaha mengingat kesalahan, kebodohan dan dosa-dosa duniaku. Sejak saat itu, Aku yakin bahwa hidayahNya telah datang menghampiriku. Hidayah yang telah lama kutunggu. Jauh sebelum Aku mengenal cinta Ranes dan lainnya.
Ya Robb... terimakasih. Aku berjanji akan selalu berusaha menjaga hidayah ini di hidupku. Ya Robb.. Kan Kugenggam hidayah ini erat-erat selamanya. Ya Robb... dengarkan dan kabulkanlah permohonanku ini. Aamieen..
_Selesai_

Tulisan ini telah dimuat pada Tabloid Serambi Ummah

Senin, 28 November 2011

Impian Dari Desa


Impian Dari Desa

Oleh : Khoiriyyah Azzahro

Terduduk Ia melepas penat yang semakin terasa pada kedua kakinya. Mata sayunya menyiratkan keletihan yang amat. Sesekali diusapnya wajah yang berpeluh penuh. Sebatang rokok disodorkan dari samping. Dengan lunglai diraihnya jua. Sejurus kemudian, asap mengepul dari mulut dan hidungnya.
“Sampai tebila kita di sini, Mas?” sejurus tanya terdengar.
Ia tolehkan wajah ke lelaki berumur dua puluhan di sampingnya.
“Ya ndak tau ! Mungkin sampai besok, mungkin sampai seminggu, sebulan… Kenapa? Kamu sudah bosan? Sudah capek? Weis.. tidur sana!”
Anak muda kok ndak punya semangat?!
Ia menggerutu dalam hati.
Baru segini sudah capek! Bosan!
Masih saja Ia menggerutu sendiri dalam hati.
“ Ya.. kada kayaitu, Mas ay! Soalnya Saya sudah bilang sama bini dan anak di kampung, kalau Saya kada lawas ninggalin mereka di desa. Mas tau kan.. Ramlah lagi hamil tujuh bulan. Kada tega Saya ninggalinnya” tutur lelaki muda di sampingnya.
Dibuangnya rokok yang tinggal setengah. Ditatapnya lelaki di sampingnya. Di desa lelaki ini adalah tetangganya. Masih muda memang.
Baru saja mulutnya hendak berucap, seseorang menepuk pundaknya.
“Mas, ada wartawan, tuh! Katanya mau wawancara dengan salah satu koordinator” Diki tiba sambil tergesa. Di tangannya tergenggam bendera berlambangkan padi dan kapas. Dua benda yang djadikan simbol kemakmuran negri ini.
“Mana?”
“Tuh!” Diki menunjuk dua orang yang sedang ngobrol di dekat pos satpam. Si perempuan memegang tape recorder, sementara si lelaki sibuk bercakap dengan seorang satpam.
Langsung saja dirapikannya pakaian ‘dinas’ putih-putih dengan emblem besar di dada kirinya. Ditambah topi hitam di kepala, menambah gagah penampilannya di siang nan terik itu.
Ia mengkhayalkan potret dirinya terpampang pada halaman depan sebuah surat kabar ibukota. Memimpikan dirinya dielu-elukan warga desa karena berhasil ‘masuk koran’ ibukota.
Akan Kutunjukkan pada semua, sekarang orang desa nda bisa dibodohi lagi! bisik hatinya berapi-api.
“Catat ya, Mba! Kami datang ke ibukota ini dari jam enam kemarin sore dan nginep di masjid ujung sana” masih berapi-api Ia berucap.
“Catat ya, Mba! Kami ke sini dengan duit pas-pasan. Malah ada yang jual ayam dan kambing peliharaannya. Tapi, biar kitu,  kami seneng bisa sampe di sini“
Si ‘Mba wartawati’ mesem-mesem mendengar penuturannya.
“Permisi sebentar, Mba!“ Diki menyela tiba-tiba, menggamitnya menjauhi si wartawati.
“Mas, kayapa pian nih? Jangan nyuruh-nyuruh kayaitu! Malu, Mas!”
“Apanya yang nyuruh? Aku bicara apa adanya to? Biar semua orang tau kalau kita ke sini untuk memperjuangkan nasib rakyat”
“Iya, Mas. Tapi…”
“Permisi, Bapak-bapak! Kebetulan Kami sedang terburu-buru, karena ada hal lain yang juga akan segera Kami liput. Bila Bapak-bapak tak keberatan, dapatkah Saya me-wawancarai yang lainnya saja?”
Ia dan Diki berpandangan sejenak.  “Oke! Sebentar, Mba! Mas Ridwan! Sini, Mas!”
Lelaki yang dipanggil mendekat.
“Mba boleh bicara dengan beliau. Namanya Ridwan. Ia kami percayai sebagai… engapa namanya... eng.. juru bicara! Ya.. juru bicara
Ia segera menjauh saja dari mereka. Weis ya sudah! Ridwan saja! Dia kan pernah tinggal di kota, pernah kuliah. Aku ini emang ndeso. Kampungan. Dari kecil cuma jadi warga transmigran di Kalimantan. Punya orangtua juga kampungan. Dasar nasib!
Lagi-lagi Ia menggerutu dalam hati. Ntah sudah berapa kali Ia menggerutu sepanjang hari ini. Otaknya terasa sesak, semakin sesak, bahkan sebentar lagi mungkin akan segera meledak.
Hah! Meledak ?! Wuah! Jangan! Jangan dulu! Aku kan belum berhasil membuat desaku, negriku, tumpah darahku ini maju. Belum! Hak-hak rakyat desa harus segera diperjuangkan! Hidup kami harus dimakmurkan! Dan impianku harus diwujudkan!
Dilihatnya Pamuji, salah seorang perangkat desa bawahannya, berdiri dan berorasi di depan gedung yang sedang dijaga ketat oleh pagar betis beberapa aparat pengaman.
“Sekarang kita, orang desa, tidak akan lagi menjadi penonton. Kita sudah punya rumah sendiri, Partai XZYW, yang dibangun demi rakyat Indonesia, demi seluruh rakyat desa”
 “Kita tak minta dari para jenderal besar. Kita tak perlu lagi mendengar janji gombal yang selalu diucapkan orang-orang parpol dan tokoh nasional setiap kali pemilu. Dan ingatlah! Partai kita ini, rumah kita ini, kita bangun dan bentuk dari bawah ke atas bukan dari atas ke bawah”
Hebat! Hebat kowe, Ji! Tunjukkin! Tunjukkin pada semua. Kalau kita orang desa juga bisa maju. Kita bisa bangun sendiri desa kita, lewat partai yang kita dirikan ini. Ia bertepuk tangan lalu mengepalkan tangannya tinggi-tinggi ke udara.
Hari ini adalah hari ketiga Ia bersama teman-temannya berunjuk rasa pada instansi pemerintah itu. Hampir empat hari sudah mereka berada di ibukota. Tidur di masjid, mandi dan buang air pun mereka lakukan di wc masjid. Makan? Tak masalah! Ia dan teman-temannya sudah terbiasa ‘berpuasa’. Semuanya demi desa tercinta. Karenanya mereka keukeuh memperjuangkan aspirasi yang lama terpendam.
Ia menengok perlahan ke arah barisan belakang. Lho? Ada apa ya? Kenapa mereka berkerumun seperti itu?
Ada yang pingsan, Mas!”
“Apa? Payah bener?! Baru segini kok ngoyo? Haal…lah!”.  Ingin Ia mengumpat sejadinya. Namun didengarnya perut yang tiba-tiba bersorak mengharap masuknya benda pengganjal. Ia tertegun. Ya, perutnya. Dan bagaimana dengan perut teman-temannya, perut anak istri, keluarga, tetangga, kerabat di desa yang telah tiga hari di tinggalkan?
“Maaf, Bapak-bapak! Rekan-rekan sekalian!” seorang lelaki berseragam dengan beberapa sematan beds di sana sini, berdiri di depan pintu kantor nan cukup megah itu. Di sisi kiri kanannya, berdiri tegap dua orang petugas keamanan.
“Agar masalah tak berlarut-larut, Kami meminta tiga orang utusan dari rekan-rekan guna dipertemukan dengan pihak kami”
Hening sejenak, berpasang mata berpandangan. Lalu…
“Begini, Bapak-bapak pejabat! Semua yang Kami lakukan ini lahir dari nurani rakyat. Kami, orang desa, tak dibayar atau disuruh… apa jar istilahnya? Oya.. ditunggangi oleh pihak mana pun!“ gelegar Slamet berapi-api memenuhi ruang ber-AC yang wangi parfum aerosol itu. Berpasang mata menatapi Slamet dari balik sebuah meja panjang.
“Oh.. begitu. Jadi Bapak-bapak dari desa ini ingin mendirikan partai sebenarnya untuk apa? Kan banyak pilihan dari yang sudah ada. Mengapa tidak diutarakan saja aspirasi Bapak-Bapak pada partai-partai yang sudah ada?” salah seorang yang dipanggil ‘Bapak pejabat’ bertanya dari balik meja. Sembari menatap Slamet lekat.
“Yang mana? Zaman sekarang, apa ada partai yang bisa kami percayai? Apa ada fihak yang benar-benar perduli pada kami? Yang mana, Pak?”
Nada tinggi kalimat tanya Slamet, sukses membuat kuping dan hatinya terasa panas. Di ruangan yang dingin ber-AC itu Ia merasa gerah oleh emosi.
Lalu, fikirannya menerawang. Air mukanya berubah.
“Sudah kami lihat dengan mata kepala kami sendiri. Banyak rakyat desa yang pindah ke ibukota. Tapi di ibukota malah makin susah. Mau berdagang di emperan, dihalau satpol PP. Mau ikut kerja kantoran, tak punya ijazah. Sudah sulit cari uang di desa, eh… di ibukota sama saja. Lalu.. bagaimana? Sementara parpol-parpol yang kami harapkan dapat membangun desa hanya mengumbar janji tanpa kepastian”
Serasa seluruh persendiannya lepas dan otot-ototnya lemas begitu saja usai mengucakan kalimat yang telah susah payah diaturnya tersebut.
“Kami, para kepala dan perangkat desa dapat netral dalam sikap. Meski kami mendirikan partai ini dan menjadi kader di dalamnya” giliran Pamuji berucap.
Ah.. Pamuji, kau emang anak buahku yang cuerrrdass! Omonganmu itu selalu hebat! Ia memuji dalam hati. Namun entah mengapa pandangannya mulai terasa mengabur. Samar dilihatnya tubuh Pamuji yang tiba-tiba limbung ditahan oleh Slamet yang berada di sebelahnya.
“Baiklah, Bapak-bapak! Kami telah menangkap maksud Bapak-bapak sekalian. Selanjutnya…”
Buuk!!!
Tubuh limbung Pamuji ambruk ke lantai secara tiba-tiba. Beberapa orang menoleh untuk mencari tahu sumber suara yang amat mengejutkan seisi ruangan tersebut.
Ia ikut menoleh pula. Meski hanya mendapati ribuan kunang-kunang pada kedua pandangannya. Dan sebelum  berhasil mendekatkan diri dengan arah suara, Ia merasa sekitarnya berputar.
Lalu Ia teringat kembali pada perutnya, perut rekan-rekannya, perut handai taulannya, yang tak terisi selama empat hari ini. Ingatannya terbang pada anak istrinya di desa. Mereka pasti berharap Ia dan rekan-rekannya kembali ke desa dengan rezeki dan duit yang banyak. Ia pun masih mengingat padi dan kapas, lambang kemakmuran, partai mereka kelak. Ia masih ingat pula pada Pamuji yang jago berbicara serta retorika, bak Bung Karno. Pada Slamet yang lihai bercakap dengan banyak orang, bak diplomat. Serta pada semangat yang selalu dimilikinya.
Ya.. Ia ingat semuanya. Sebelum gelap menguasainya sekejap kemudian dan tubuhnya terkulai pada licinnya lantai gedung ber-Ac dan wangi aerosol itu.

Banjarmasin, 11 July 2008-2011

 Telah dimuat pada Harian Radar Banjarmasin, edisi 27 November 2011


Rabu, 26 Oktober 2011

Kala Arul Ogah Ngaji


Kala Arul Ogah Ngaji

Oleh : Khoiriyyah Azzahro


Alia bersungut menatap bocah di hadapannya. Nyaring desing peluru dan derap langkah berpacu dengan ragam suara tombol, hadir dari sebuah kotak ajaib empat belas inchi. Bocah di hadapannya asyik masyuk menekan tuts-tuts stick. Sesekali terdengar celoteh dan seru kecil dari mulutnya.
“Arul sayaang.. udahan dong! Liat tuh udah jam berapa? Kak Alia kan belum sholat” bujuknya.
Ya.. sedari tadi Ia bengong saja di dekat bocah yang pandangannya tak lepas dari kotak ajaib itu, padahal sudah hampir pukul empat sore.
“Kak Alia sholat aja sana!”
“Iya. Tapi Arul cepat ganti baju sendiri, ya..”
Gak! Arul gak mau ganti baju! Arul mau main aja sampe mama datang!”
Wadduh..!! Kenapa lagi nih anak
“Tadi Hamdan sama Aris sudah ke masjid lho!”
Geemeeess…. Ingin rasanya Alia mencubiti pipi tembem itu. Tapi urung dilakukannya. Kalau ntar nangis tambah berabe, deh!
“Kak Alia bliin snack, deh! Atau es krim…” bujuk Alia lagi.
“Pokoknya gak mau!”
Gawat! Kalau mama pulang, pasti Aku ditanyain. Mending cuma ditanya, kalau dimarahin…wadduuh!
Sudah tiga hari Arul tak mau pergi mengaji ke Taman Pendidikan Alqur’an di mesjid. Alasannya bermacam-macam. Sakit perut lah! Banyak pe-er lah! Capek lah!
Dan hari ini, bocah kelas tiga sekolah dasar itu malah asyik bermain playstation seharian.
Ada yang gak beres, nih!
***
“Aris, Kak Alia tanya dong…” pinta Alia pada anak lelaki yang asyik mengulum permen di tangga masjid.
“Minggu kemarin, Arul dimarahin sama Pak Ustadz ya…?”
Mata bocah itu mengerjap, “Enggak, Kak!”
“Ooh… Atau dihukum di kelas?”
Matanya masih mengerjap, “Eng..gak juga, Kak!”
“Berantem sama temen?”
Mata bocah itu tetap mengerjap, “Eng… gak tau, Kak!”
Ow ow.. nah lho?!? Ada apa ya.. dengan Arul?
Alia juga menanyakan pada Pak Ustadz. Tapi, sang guru yang sudah mengajar pada Taman Pendidikan Alqur’an selama lima tahun itu mengatakan kalau minggu sebelumnya Arul baik-baik saja.
Dan akhirnya, di hadapan mama..
“Ma, si Arul tuh! Sudah empat kali gak pergi ngaji
“Iya! Mama sudah coba tanya sama adikmu itu. Tapi, tiap kali ditanya pasti jawabannya ya capek lahmalas lahsibuk lah.. .”
“Jadi, mama sudah nanya ya..”
“Iya! Bahkan sudah mama ancam, kalau minggu besok gak mau pergi ngaji gak kan mama kasih uang jajan!”
Duuuh… mama! Kenapa pake main ancam segala sih?! Anak umur segitu sih harusnya dibujuk..
“Oya.. minggu kemarin mama nemuin bola kasti di saku celana sekolahnya Arul. Kok mama gak tau ya, kalau Arul suka main kasti juga..?!”
Bola kasti? Lho.. bukannya Arul suka main gamewatch sama playstation?? Koleksi kaset game-nya aja ada puluhan, gamewatch-nya juga selalu dibawa kemana-mana. Termasuk ke sekolah…
Alia tahu benar, Arul, adik culunnya itu lebih senang berlama-lama di depan ‘kotak ajaib’ yang ada di rumah mereka. Atau ngendon saja seharian di depan komputer. Saat jam istirahat di sekolah pun, setahu Alia, tempat favorit si Arul adalah kantin sekolah. Dan sepulang sekolah, Arul selalu langsung pulang ke rumah.
Jadi, bola kasti itu??
***
Sabtu sore, Alia mengajak Arul ke kios rental kaset dan cd playstation di dekat rumah. Tentu saja bocah bongsor itu gembira bukan kepalang.
Adik semata wayangnya itu tampak takjub melihat-lihat deretan compact disk dengan gambar sampul yang lucu-lucu dan unik. Sebelumnya Ia tak pernah diajak ke tempat tersebut. Paling-paling ke pedagang cd di pinggir jalan yang tak hanya menjual beragam jenis cd permainan namun juga musik dan film.
“Arul boleh pilih yang mana aja! Asaaal…”
Bener, Kak? Asyik! Asyik!” bocah lelaki itu melonjak-lonjak kegirangan.
Eiit.. ntar dulu!”
Arul cengengesan…
“Ada syaratnya!”
Arul terdiam..
Truuus… Arul juga boleh minta dibelikan snack atau es krim… asaaal…”
Alia menatap lurus ke dalam mata bocah yang masih terdiam tersebut.
“Asal Arul cerita dulu sama Kak Alia”
Dan Arul masih terdiam…
“Sini!” Alia menarik tangan mungil Arul ke sudut kios dekat dengan jendela yang menghadap ke jalan raya. Lalu beringsut duduk di sebuah kursi. Arul mengikuti tingkahnya dan duduk di sampingnya.
“Kak Alia mau nanya. Kenapa sih.. sekarang tiap sore Arul gak mau pergi ngaji sama Aris, Hamdan… di TPA lagi?“
Arul masih belum bersuara sepatah pun.
“Ayo, kenapa?” tanya Alia.
“Habisnya… Arul… engg…Arul diledekin endut
“Eh!!” Alia terperanjat
Oo… jadi itu masalahnya…
“Waktu hari Rabu, Arul kan main bola kasti sama Nanang, Hamdan, ada Derri, Ardian juga. Truuus… Arul sekelompok sama Nanang. Truuuss.. pas giliran Arul yang mukul, kelompoknya Hamdan dapat bolanya. Arul kan belum sampe pos, tapi bolanya sudah dilempar. Kena, deh!. Truuus… Kelompok Arul kalah, deh!”
Sambil tertunduk, Arul, bocah bertubuh bongsor itu berkisah dengan polosnya. Matanya berkaca-kaca.
Truuuss.. “ kini bocah itu mulai terisak.
Truuuss.. Arul di bilang enduut.. makanya larinya lambat. Makanya kalah. Hu hu… Arul payah!”
Alia meraih kepala bocah itu dalam pelukan. Dan pundaknya seketika basah oleh airmata bocah yang jadi adik semata wayangnya itu.
“Stt.. udah! Masa anak cowok cengeng.. malu ah!”
Hu hu.. Arul payah ya, Kak?”
Gak! Arul gak payah kok! Arul kan adik Kak Alia yang paling hebat!”
Mata yang masih penuh dengan airmata itu kini menatap Alia dengan sejuta tanya.
“Iya! Arul emang hebat, kok! Arul sudah mulai tartil al Qur’an kaaan.. Trus ntar mau ikutan juga lomba nasyid kaaan… sama kaligrafi kaaan..”
Mata yang masih bersisa bulir-bulir airmata itu masih penuh tanya.
“Kok Kak Alia tau?”
“Iya dooonk! Kak Alia getto lho!”
Sedikit senyum kini terpampang di tengah pipi tembem itu.
“Arul sayaaaang.. Allah itu gak pernah lho melihat Arul itu mau ndut kek, mau kurus kek, mau cakep kek, mau gak kek! Sama dengan Kak Alia”
“Arul lihat tukang sol sepatu itu?” Alia menunjuk ke arah seorang lelaki berkemeja kotak-kotak, berkulit hitam, dengan wajah legam dan tampak kusam karena debu yang lengket.
Arul mengangguk.
“Gantengan mana sama oom yang pake jaket kulit di sebelahnya?’ tangan Alia ganti menunjuk lelaki di sebelah tukang sol sepatu. Lelaki itu memakai jaket kulit hitam dengan kacamata bertengger di kepala dan celana jins hitam berlipit.
Dahi bocah itu kini sedikit berkerut dengan mulut yang dimonyongkan ke depan.
“Lihat lagi mbok-mbok tukang pencok yang pake kebaya itu!” tunjuk Alia ke arah berbeda.
Cantikan mana sama mba-mba yang pake kemeja di dalam toko itu?”
Alia menunjuk satu persatu orang-orang yang tampak dari jendela di dekatnya.
“Ayo.. mana yang lebih ganteng? Mas yang tukang sol sepatu atau oom-nya?”
Setelah agak lama..
Eeng.. mas yang sol sepatu cakep, tapiii....”
“Tapi, kenapa?”
“Bajunya jelek!”
Alia tersenyum.
Truuuss…Mba-nya yang di toko yang cantik” ucap Arul.
“Hmm.. sekarang gimana kalau mba-nya yang jadi tukang jamu, kira-kira masih tetap cantik gak?”
Arul termenung sesaat. Lalu menggeleng perlahan.
“Jadi, yang bikin oom itu kelihatan cakep apa? Bajunya ya?! Yang bikin mba-nya kelihatan cantik apa? Wajahnya? Kerjaannya?”
Arul mengangguk pelan, sangat.
“Arul sayaaang… tahu gak, mau muda kek! Tua, kek! Mau cantik atau jelek.. buat Allah itu gak penting” Alia menatap wajah bulat adik tersayangnya itu.
“Sama juga buat mama, papa, Kak Alia. Arul mau ndut atau kurus.. Bisa lari, gak bisa lari.. ya, tetep aja itu gak penting. Mau Arul jelek kek, cakep kek.. tetep aja semua sayang sama Arul. Karena Arul kan anak baik, pinter mengaji, jago nasyid. Lucu lagi!”
Alia mencubit pipi tembem Arul dengan gemas dan bocah itu meringis.
Truuss.. Bukan karena Arul ndut, lalu Arul gak bisa lari. Tapi karena Arul malas olahraga. Ya kaan?”
Mulut bocah itu dimonyongkan ke depan.
Tuh kan Arul lucu deh!”
“He he he..” sekarang bocah itu tertawa dengan mimiknya yang masih saja lucu.
“Coba deh sekali-sekali Arul main sepeda, petak umpet, atau main layang-layang di luar rumah, lama-lama Arul pasti bisa lebih cepat larinya”
“Bisa kurus?” tanya Arul dengan mimik yang lucu.
“Bisa sih…”
Swear, Kak??”
“Iih.. siapa tuh yang ngajarin ngomong ‘swear’ segala? Udah pinter bahasa inggris ya?”
“Kak Alia mau tau?” tanya Arul masih dengan mimik yang lucu. Alia lalu mengangguk.
“Addaaa…aja!”
“Iih.. sekarang main rahasia-rahasiaan segala, ya?! Kasih tau dong siapaaa..”
Eenng.. Kak Alia kejar Arul dulu, baru Arul kasih tau!”
Bocah bongsor itu kini sudah berdiri sembari berancang-ancang.
“Oke! Siapa takut,” Alia pun bersegera mengambil posisi.
Lalu…
 “ Oke?! Siaaap! Sediaaa..! Yak!”
Banjarmasin, 10 Agustus 2008

Cerpen ini telah dimuat pada Tabloid Serambi Ummah edisi Maret 2008

Kala Kau Tak Di Sini



By : KhoiriyyahAzzahro


Lembut angin menampar pipiku malam itu. Tapi engkau diam saja. Tepat di hadapanku, dua orang berseragam pramuka lengkap, mondar mandir.
Kulirik pergelanganku, 19.15. Lewat lima belas menit dari jadwal seharusnya. Ah, sedari awal, Aku telah sangsi. Tapi, tadi siang engkau memintaku datang malam ini. Padahal Aku sungguh sangsi bahwa akan ada latihan kepramukaan seperti minggu kemarin. Karena, tak ada satu pun kakak senior yang memberitahu. Namun, engkau yang memintaku. Memohon padaku.
“Bulan depan, usai ujian dan pengumuman evaluasi belajar, Aku akan ke Ambon, Ni!” engkau berucap lirih.
Aku diam. Angin masih sibuk menampari pipiku.
Dan Aku teringat akan pipi itu. Pipi engkau. Aku teringat kala suatu sore, pipi di wajah engkau berubah merah membiru. Serta seragam yang lusuh dan rambut acak-acakan. Dengan tubuh lunglai di atas sofa rumahmu, rumah orangtuamu.
Namun, engkau  tiada berucap sepatah kata padaku.
“Apa-apaan lagi ini? Ni, kenapa anak tante jadi begini?” perempuan yang kuperkirakan lebih tua tiga tahun dari ibuku itu, menderaku dengan pertanyaan yang seharusnya ditujukan pada engkau. Bukan padaku.
“Maaf, Tante! Setahu Saya, Nate sudah berusaha sabar dan nggak ngelawan” penuh hati-hati, kujawab pertanyaan tersebut.
Perempuan itu menarik nafas panjang.
“Mama sudah bosan melihat kamu begini, Nat! Berantem melulu. Kalau kamu terus-terusan seperti ini, mama akan segera bicarakan rencana yang dulu sama papamu”
Wajah engkau mendadak pucat menegang. Tak kuasa mengangkat tatapan yang sedari awal hanya terpaku pada karpet lembut di bawah kaki. Bahkan hingga perempuan yang kupanggil ‘tante’ itu beranjak dari tempat duduknya.
Tamparan angin pada pipiku tak lagi lembut. Engkau masih berucap lirih.
“Ni, Aku nggak mau pergi! Aku nggak mau pindah! Swear! Aku…. “
“Sudah, Nat! Aku tahu.. “, maaf terpaksa kupotong saja kalimat sia-sia itu.
“Mama-mu benar! Kamu hanya jadi bulan-bulanan di sini. Kondisimu juga nggak akan berubah. Aku sudah bilang kan?! Aku ngerti, kok!”
Ya..Tuhan! Kuharap kalimatku ini tidak menyakiti engkau, lagi…
“Di sana, sekolahnya pasti lebih bagus. Kamu bisa lebih konsen belajar. Trus.. nggak ada yang mengganggumu atau mencelakaimu… tentunya!”
Sekali lagi, kuharap kalimatku ini tak melukai engkau.
Ya.. eyaalla..ah. Secara di sana tuu.. ibu kota kalle…! Lebih fresh, getto!” centil kulontarkan kalimat itu dengan mimik wajah selucu mungkin. Hanya agar malam itu engkau tersenyum dan tertawa, Nate!
Aku tak ingin engkau tahu gundahnya hatiku kala itu. Yang kuingin, engkau lihat diriku yang cerewet, lucu, ngocol, gokil. Seperti biasa. Semua tingkahku yang –katamu- membuatmu menyukaiku.
“Tapi, Ni…”
“Nat, percaya deh! Yang namanya orangtua nggak akan pernah nyakitin anaknya. Kecuali kita yang nggak faham sikap, fikiran atau cara mereka”
Malam itu, terakhir kali ku rasa dekat dengan engkau, Nate! Sebab seminggu setelah itu kulihat engkau bukan lagi seorang yang bisa membuatku tertawa geli dengan seribu satu tingkahmu. Seperti saat engkau membujukku menemui panitia orientasi sekolah untuk menukar sepatumu yang kebesaran. Hanya karena engkau malu melakukannya sendiri, malu mengakui keegoisanmu tentang ukuran telapak kakimu (ha ha..). Atau saat engkau lagi-lagi membujukku menemanimu menemui wali kelasmu, hanya karena engkau fikir wali kelasmu itu genit dan ‘ada hati’ padamu (ha ha..).
Engkau bukan lagi seorang yang pernah membuat perasaanku terbang ke langit menengok negri kahyangan. Seperti saat pertama kali engkau ucapkan kalimat lucu tentang rasa sukamu pada diri culunku.
Seminggu setelah itu, engkau dan senyummu, diam saja di dek KM Lambuna yang kau pijak. Setelah kau jabat tanganku di detik-detik akhir labuhnya kapal besar itu, dan setelah peluit berbunyi, maka tak ada lagi tawa dan centilku.
Malam itu, terakhir kali ku rasa engkau hadir dan nyata, Nate! Dari kapal itu, engkau tatapi Aku yang terpaku menyaksikan jarak demi jarak memisahkan kita seiring laju haluan kapal yang semakin beranjak meninggalkan daratan.
Meski malam itu, kulihat jelas wajah penuh penyesalan diikuti gelengan kepala serta gerak bibir engkau yang desaunya tak mungkin terdengar dari tempatku berdiri. Namun hadir jua tetes demi tetes bening air yang mengalir dari kedua sudut mataku. Dan engkau tentu tahu apa yang berkecamuk di dadaku saat itu.
Ah, Nate! Kini tinggal kepingan saja.
Andai engkau tahu, betapa bodohnya kuhadapi hidup yang kujalani dengan merangkak, setelah engkau tak ada. Andai engkau tahu, betapa sulitnya kutersenyum apalagi tertawa. Karena engkau tiada di hariku lagi, sejak itu.
Mungkin, Aku masih menanti engkau kala itu. Kuharap hariku yang gelap, terceriakan oleh secuil kisah darimu di sana. Namun, hari… bulan… berganti, tak satu berita. Dimanakah hati itu? Jasad tubuh tentu di sana. Ambon Manise. Tapi, dimana ingatan akan diriku kau letakkan? Mengapa pula bayang engkau kian pudar di hariku?
Tahukah engkau, suatu hari yang terik, Aku menangis dalam sanubari. Panas mentari di atas pantai hitam Gambesi memanggang wajah dan tubuhku yang semakin coklat. Topi tikar pramuka, kacu merah putih di leher serta rok coklat kedodoranku ikut terpanggang.
Yuuk… tebakan selanjutnya. Kamu pilih mana, Dek? Mau dikasih mobil carry butut atau pesawat terbang?” tanyanya.
Aku saling pandang dengan Aleyda yang duduk manis bersamaku di atas tikar pandan.
“Ya.. pesawat terbang dong, Kak!” jawab kami bersamaan.
“Wah.. kalau Saya sih mending mobil carry. Biar pun butut, bisa disetir sendiri”, elaknya.
“Lho?”
“Iya! Soalnya, pesawatnya gak ada baling-balingnya”
“Ha.. ha.. ha..” Aku tertawa.
Tahukah engkau, Nate? Hari itu, deras angin pantai menampar wajah dan pipiku. Namun, Aku tertawa! Dan dalam sadarku, hadir pendar bahagia yang berbeda di hati.
Dan tahukah engkau, suatu hari Aku mendaki puncak sendiri. Kala seluruh peserta hiking ditemani pemandu. Namun, Aku mendaki sendiri. Kabut menghalangi pandanganku dan putus asa kehilangan jejak hampir menderaku.
“Ayo, Ni! Sedikit lagi!” bariton-nya yang khas, menggema tiba-tiba dari atas puncak.
Kutatap tanah basah curam dan kabut tipis di hadapan. Kudaki sendiri terjalnya tanpa sebilah tongkat dan melepas kacamata yang berembun. Dan kala tiba di puncak, kudapati senyumnya rekah di hatiku.
Kesanku kerlip kembali, kala Ia petik buah pala khas Maluku yang asam manis kecut dari pohon tinggi di puncak nan dingin itu, untukku.
Tahukah engkau? Suatu malam temaram, ternyata Ia saja yang bertanya “Kenapa?”, ”Ada apa?” padaku. Kala hampir semua orang menimpakan tuduhan atas kesalahan yang tak pernah kulakukan. Kala kurasa naifnya diriku yang dipecundangi tanpa kesempatan membela diri. Namun, Ia saja yang mau mendengar keluh kesahku yang dihimpit kepedihan saat itu.
“Kalau ada apa-apa, ngomong ke kakak, ya!” Berulang kali kalimat itu dititipkannya padaku. Hingga, Aku rasa mampu hadapi apa pun yang terbentang di hari esokku. Ntah mengapa?!
Maka, kulipat saja surat engkau yang penuh kalimat rindu, juga tanya tentang masih adakah rasaku pada engkau. Kusimpan saja foto manis engkau yang berseragam sekolah itu. Kuselipkan diantara buku diary manis bertuliskan namamu.
Maafkan Aku, Nate! Jangan tanya lagi perasaanku pada engkau. Tanya saja hati engkau terlebih dahulu. Kemana saja rasa engkau selama sembilan bulan itu?
Dan jangan paksa Aku untuk menulis kata-kata indah pada surat balasanku. Karena kini bagiku, semua kebersamaan kita dimasa lalu yang engkau ceritakan kembali dalam surat itu, telah menjadi kepingan, belaka…  Tak utuh dan padu.
Maka, kuterpaku saja, kala tiba-tiba sapa engkau memasuki pendengaranku melalui loudspeaker ponsel mungilku. Kutergugu saja, kala tiba-tiba suara engkau kabarkan kini dirimu telah di kota ini, Ternate. Kutermangu saja, kala tiba-tiba ucap engkau katakan rindu dan ingin jumpa aku.
Jangan paksa Aku untuk tersenyum dan bersorak. Karena semenjak malam kala angin menampar pipiku dan engkau berucap kita akan berjauhan, sesungguhnya ku tlah relakan itu, Nate! Meski berkali-kali engkau tegaskan tak inginkan itu.
Dan semenjak malam kala kurasa terakhir kali engkau hadir dan nyata, sesungguhnya ku tlah coba lepaskan ikatan hatiku padamu, Nate! Meski susah payah dan tanpa tawa di hari-hariku setelah itu.
Maka, kumohon maafkan Aku, Nate! Sebab, Aku bukan gadis yang tepat ‘tuk engkau bawa ke kahyanganmu. Bukan perempuan yang bisa membuat hatimu, pipimu, mamamu… bahagia. Dan engkau bukan lelaki yang bisa membuatku bercahaya dan tertawa…  selalu.
Lembut angin menampar pipiku malam itu. Dan Ia duduk di sisiku. Ia yang selalu buatku tertawa. Ia yang tiba-tiba bertanya, “Kenapa? Dingin ya? Sini, Kakak tiup tangannya!”
Dan, mohon maafkan Aku, Nate! Ponselku berdering. Tertera nomer dan nama engkau di sana. Maaf! Ku reject saja! Karena ku sedang ingin dengar semua ceritanya saja, ocehnya saja, leluconnya saja. Ku sedang ingin menikmati rasa dan mendekap asa, bersamanya saja.
“Nah, ada kisah lagi. Suatu saat…” Ia masih mengoceh.
Kini, meski tamparan angin di pipiku tak lagi lembut malam itu, ku tak mau beranjak dari sisinya. Dari Ia, kakak special-ku. Bayu!
Banjarmasin, 23rd-26th June 2008
Kak, Terimakasih untuk segalanya!
Telah dimuat pada Majalah KaWanku edisi Agustus 2008